Bismillah
Menyongsong kemenangan Dakwah.... Bersama PKS

Minggu, 10 Maret 2013

Tifatul: PKS Berhasil Geser Basis Massa Golkar dan PDI-P

SURABAYA - Anggota Majelis Syuro Partai Keadilan Sejahtera Tifatul Sembiring menilai, pasangan Gatot Pujo Nugroho-Tengku Erry Nuradi yang sementara memimpin perolehan suara dalam Pemilihan Kepala Daerah Sumatera Utara membuktikan suara PKS masih solid di daerah.
Tifatul mengakui, kemenangan PKS di Jawa Barat setelah Ahmad Heryawan kembali menjabat gubernur dan kemenangan di Sumatera Utara merupakan bukti terjadinya pergeseran suara basis massa partai.
"Dulunya Jabar dan Sumut kan basisnya Golkar dan PDI-P. Sekarang terjadi pergeseran yang signifikan," kata Tifatul Sembiring seusai memberikan kuliah umum di Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Surabaya, Jawa Timur, Jumat (8/3/2013).    
Kasus korupsi impor daging sapi yang menyeret mantan Presiden PKS Luthfi Hasan Ishaaq menjadi tersangka tidak lantas membuat PKS terpuruk. "Ini bukti kecepatan kita untuk merespons jadi persoalan tidak terlalu dominan di media. Setelah kami jelaskan ke publik, mereka cukup mengerti," ujar Tifatul yang juga menjabat Menteri Komunikasi dan Informatika ini.    
Tifatul berharap, jika nanti memenangkan pilkada, Gatot-Erry dapat bekerja untuk semua golongan, suku, agama, dan partai mana pun. Mereka perlu menggandeng semua komponen saat memimpin Sumut. [KOMPAS.com]

Charta Politika: Soal Pilkada, PKS Diuntungkan

JAKARTA -- Partai politik dianggap sudah tidak lagi memainkan peran signifikan dalam pemilihan kepada daerah (pilkada). Alih-alih, kemenangan pasangan calon kepala daerah lebih ditentukan faktor figur.
"Ada kekecewaan terhadap partai karena tidak bekerja baik dan banyak melakukan tindakan busuk, seperti korupsi," kata pengamat politik Charta Politika, Arya Fernandes ketika dihubungi Republika, Jumat (8/3).
Menurutnya, faktor figur calon kepala daerah sangat menentukan kemenangan di pilkada. Ini karena masyarakat cenderung menjatuhkan pilihan berdasarkan pertimbang emosional, psikologis, dan primordial.
"Motivasi masyarakat memilih di pilkada berbeda dengan saat memilih dalam pemilu," ujarnya.
Sementara, rendahnya tingkat partisipasi politik masyarakat dalam pilkada juga memberi pengaruh terhadap kemenangan. Arya menyatakan dalam situasi semacam itu partai-partai kader yang memiliki basis massa kuat akan mendapat banyak keuntungan.
"Saat partisipasi pemilih lemah, partai kader seperti PKS (Partai Keadilan Sejahtera) yang diuntungkan," ujarnya. [RMOL]

Hidayat: PKS Berbalik Unggul Bagaikan Real Madrid

Jakarta – Kemenangan dua kader PKS dalam pemilihan gubernur Jawa Barat dan Sumatra Utara diibaratkan seperti halnya pertandingan sepak bola. Hal ini disampaikan Ketua FPKS Hidayat Nur Wahid dalam konsolidasi kader PKS DKI Jakarta, di sport mall Kelapa Gading Jakarta, Sabtu (9/3).
Hidayat pun mencontohkan pertandingan babak 16 besar Liga Champions antara Manchester United dan Real Madrid, dimana Madrid bisa berbalik unggul setelah ketinggalan 1-0. Dan akhirnya Madrid pun lolos ke babak berikutnya, bahkan difavoritkan juara.
“Jakarta kita kalah 1-0, Jawa Barat kita samakan kedudukan 1-1 dan Sumut kita berbalik unggul 2-1,” imbuhnya.
Hidayat juga menggambarkan pemilihan sport mall Kelapa Gading yang sering menggelar pertandingan basket mirip dengan yang terjadi di PKS. “Basket itu kadang pemenangnya ada di detik terakhir, sama seperti PKS,” ujarnya yang disambut teriakan takbir 5000 kader PKS.
Mantan presiden PKS inipun berpesan agar kader turun ke masyarakat untuk menjelaskan musibah yang menimpa mantan presiden Luthfi Hasan Ishaq. Hidayat percaya kader-kader PKS dengan kiprahnya yang sekian lama di masyarakat, masih dipercaya rakyat.
“Datangi masjid, majelis taklim, tokoh masyarakat dan jelaskan. Kita adalah korban fitnah,” jelasnya.

 http://tajuk.co

Gelar Konsolidasi, PKS Ingin Rebut Nomor 1 di Jakarta


Jakarta : Menjelang Pemilihan Umum (Pemilu) 2014, Partai Keadilan Sejahtera (PKS), tidak ingin kalah start dengan partai-partai pesaingnya. Hal itu nampak dari berbagai konsolidasi di daerah yang dilakukan langsung oleh Presiden PKS Anis Matta.
DKI Jakarta mendapatkan giliran konsilidasi dari partai berasaskan Islam tersebut, Sabtu (9/3/2013). Bahkan dalam pidatonya, Anis Matta mengimbau kepada ribuan kader yang memenuhi Sport Mall, Kelapa Gading, Jakarta Utara, untuk kembali merebut tempat pertama seperti pada Pemilu 2004.
"Di Jakarta. Kita targetkan nomor 1. Kemarin turun kedua. Saya kira kader sekarang sudah lebih siap," ujar Anis.
Menurut Anis, proses konsolidasi ke daerah-daerah akan terus dilakukan. Sebab hal tersebut merupakan kunci kemenangan PKS.
"Konsolidasi akan terus dilakukan, karena ini kunci kemenangan. Saya akan keliling ke semua daerah," imbuhnya.
Menurut Anis, dengan proses konsolidasi langsung ke daerah, maka PKS akan mengerti apa yang diingkan oleh masyarakat. "Apa yang diinginkan oleh mereka. Yang saya terima," ujarnya. [liputan6.com]

Pernah Jadi Tukang Batu dan Kesulitan Ingin Kuliah | Penuturan Orang Tua Gatot

Nama Gatot Pudjo Nugroho tengah populer di Provinsi Sumatera Utara. Ia unggul dalam perhitungan cepat (quick count) pilgub, Kamis (7/3) lalu. Pria kelahiran Magelang itu berpeluang menjadi Gubernur Sumut 2013-2018.
UNGGUL dalam penghitungan cepat pilgub menjadi prestasi bagi pria kelahiran Magelang, 11 Juni 1962.
Bersaing dengan rival pasangan calon yang semuanya adalah putra daerah setempat, ia berhasil menunjukkan sisi ketokohannya. Beberapa tahun terakhir ia memang menempati jabatan strategis eksekutif di Tanah Batak.
Sebelumnya ia adalah wakil gubernur Sumatera Utara periode 2008-2013 mendampingi Gubernur Syamsul Arifin. Namun, pada 2011 ia naik menjadi Plt Gubernur Sumut karena Syamsul Arifin terjerat kasus korupsi.
Terlepas dari perjuangannya di Pilgub Sumut, ada kisah menarik mengenai sejarah masa kecil Gatot. Putra pasangan Djoeli Tjakra Wardaja (80) dan Soelastri (alm) ini berasal dari Kampung Potrosaran, sebuah kampung kecil di Kelurahan Potrobangsan, Kota Magelang.
Ayahnya anggota TNI berpangkat Sersan. Ditemui di rumah tinggalnya kini di Perumahan Kalinegoro, Kecamatan Mertoyudan, Kabupaten Magelang, Djoeli Tjakra pun menuturkan riwayat Gatot.
Di Kota Magelang, Gatot menghabiskan masa remajanya dan menempuh pendidikan hingga STM Negeri Magelang.
Menjelang tamat STM, Gatot yang juga punya keinginan besar untuk menjadi tentara itu berniat mengikuti test Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (Akabri), tetapi gagal.
’’Gatot lulus STM pada 1981. Lalu ia bekerja dengan Pak Aknum, seorang kontraktor bangunan. Ia tidak meneruskan pendidikan karena pada saat itu memang saya tidak bisa lagi membiayai,’’ katanya, kemarin.
Bekerja di perusahaan kontraktor, Gatot diberi pekerjaan menata batu untuk pondasi Jl Raya Kaponan-Ketep. Atas pekerjaannya, ia mendapat bayaran dari bosnya. Karena saat itu gaji yang diterima sangat kecil dan tidak sesuai dengan tenaga yang dikeluarkan, Gatot pulang ke rumah dan menangis. Di hadapan orang tuanya, ia merengek ingin meneruskan sekolah saja ke Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta dan tidak mau lagi bekerja.
Gatot pernah pula melamar untuk Sekolah Calon Bintara (SECABA) Angkatan Darat (AD) namun harus tersingkir saat tes bidang kesehatan. Alasannya, kulit kakinya yang kasar dan berlubang-lubang karena pekerjaan kasar yang ditekuninya itu.
’’Ia pernah nangis di hadapan saya karena gajinya tidak cucuk (tidak sesuai). Ia merengek ingin meneruskan sekolah saja ke UGM dan tidak mau bekerja,’’ kenang sang ayah sambil tersenyum geli.
Karena keterbatasan ekonomi, Djoeli tak lantas mengabulkan keinginan putra keduanya itu. Gaji sebagai anggota TNI berpangkat sersan tak mencukupi membiayai pendidikan anak hingga perguruan tinggi. Terlebih masih ada tiga adiknya yang masih memerlukan biaya sekolah.
Meski ditolak sang ayah, Gatot tetap bertekad melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Tidak bisa mendaftar ke UGM, ia memilih target lain, yakni Institut Teknologi Bandung (ITB).
Hanya berbekal selembar surat kabar yang terdapat lembar pengumuman pendaftaran mahasiswa baru di ITB, suami dari Sutias Handayani itu berangkat ke Bandung. Ia mendaftarkan diri di D3 Politeknik ITB Bandung jurusan Teknik Sipil Program Studi Konstruksi Bangunan Gedung. Jurusan tersebut untuk menghasilkan instruktur yang akan ditempatkan di politeknik yang akan didirikan di berbagai daerah di Indonesia.
Karena tak akan dipungut biaya pendidikan, Gatot ikut tes dan akhirnya dinyatakan lulus. Setamat program D3 ITB tersebut, Gatot ditempatkan sebagai staf pengajar di Politeknik USU sejak 1986. Sejak saat itu, dia tinggal di Medan hingga sekarang. Sejak itulah ia mengenal betul Tanah Batak.
Mengenai karir politik, nama Gatot Pujo Nugroho mencuat dan mulai dikenal luas bersamaan dengan amanah diembannya sebagai Ketua Dewan Pengurus Wilayah (DPW) PKS Sumut 2006-2011. Sebelumnya, meski aktif dalam kegiatan dakwah bersama PKS, nama Gatot belum begitu dikenal di tengah-tengah publik. Pasalnya, karena tercatat sebagai dosen di Politeknik Negeri Medan (Polimed), namanya tidak masuk dalam struktur kepengurusan PKS Sumut.
Bersamaan dengan terpilihnya dia sebagai Ketua DPW PKS Sumut dalam Musyawarah Wilayah (Muswil) I PKS Sumut pada akhir 2006 lalu, Gatot pun secara resmi mengundurkan diri sebagai staf pengajar di Polimed.
Saat menduduki jabatan sebagai Plh Ketua DPW PKS Sumut pada 2005, selanjutnya, dia diminta menjadi calon Wakil Gubernur Sumatera Utara mendampingi Syamsul Arifin. Sejak itu namanya makin populer di seluruh wilayah Sumatera Utara. Sampai akhirnya ia membulatkan tekad mencalonkan diri sebagai Gubernur Sumut periode 2013-2018 bersama Tengku Erry yang diusung PKS dan Hanura.
Pada Lebaran 2012, ia menyempatkan diri pulang ke Kota Magelang untuk meminta doa restu orang tua dan saudara-saudaranya. Djoeli, sang ayah pun memberi pesan kepada Gatot agar jangan banyak mengumbar janji dalam berkampanye.
’’Saya memberi restu. Saya juga berpesan apabila nanti berhasil terpilih sebagai gubernur, agar tetap menjalankan tugas sesuai amanahnya. Kami orang tua tetap bangga pada Gatot dan lebih bangga lagi kalau Gatot pun jadi kebanggaan warga Sumatera Utara,’’ ungkap Djoeli.

*http://www.suaramerdeka.com/v1/index.php/read/cetak/2013/03/09/217842/Pernah-Jadi-Tukang-Batu-dan-Kesulitan-Ingin-Kuliah-

Popular Posts

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Sweet Tomatoes Printable Coupons